TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL

http://www.kopitangsel.com
Ilmu dan Pengetahuan
Ilmu adalah usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia atas berbagai situasi yang dihadapinya (Van Peursen dalam Sidharta, 2008: 7-11). Ilmu memberikan kepastian berdasarkan teori-teori yang disepakati, dan didapatkan secara sistematik melalui metodologi tertentu. Kata ilmu dalam bahasa Arab berasal dari kata ‘ilm yang berarti memahami, mengerti atau mengetahui (Wahid, 1996: 7). Contoh: ‘alim ulama berarti orang-orang yang memahami, mengerti dan mengetahui ilmu agama (baca: Islam) dengan sangat baik.   
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: ”Sebutkanlah kepada Ku nama-nama benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar”.
Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Bijaksana.” (QS. al-Baqarah [2]: 31-32).
Ayat di atas berkenaan dengan ketidakmampuan malaikat, untuk menjelaskan benda-benda yang ada di hadapannya karena ketiadaan ilmu. Adapun syarat-syarat ilmu adalah objektif, metodis, sistematis dan universal. Metodis atau metode sendiri berasal dari bahasa Yunani ‘methodos’, yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Fungsi metode ialah sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan, atau bagaimana cara melakukan atau membuat sesuatu hal. Adapun metode ilmiah adalah langkah-langkah yang ditempuh untuk memperoleh hasil yang ilmiah (id.m.wikipedia.org).
Maka, yang dimaksud dengan ilmu adalah yang memuat sekurang-kurangnya 3 hal, yaitu: 1) Teori (Eksplanandum: sesuatu yang dijelaskan); 2) Konsep (Eksplanan: Penjelasan hubungan antara 2 fenomena atau lebih). Sedangkan, pengetahuan adalah informasi yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akalnya, untuk mengenali benda atau kejadian tertentu. Adapun sumber yang dapat digunakan untuk mendapatkan pengetahuan, diantaranya:
1.      Kepercayaan yang didasarkan pada tradisi
2.      Kebiasaan-kebiasaan dan agama
3.      Panca indra atau pengalaman
4.      Akal pikiran
5.      Intuisi (bisikan hati)
Sementara, faktor-faktor yang memengaruhi pengetahuan diantaranya: 1) Academic; 2) Scientific dan 3) Commonsense. Ilmu pengetahuan sosial adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia yang saling berhubungan atau berinteraksi satu sama lain.
Teori
Teori adalah pandangan sitematis mengenai suatu fenomena, dengan menentukan hubungan antar variabelnya (Creswell, 1993: 120). Kata teori memiliki arti yang berbeda-beda tergantung pada metodologi dan konteks diskusi (Merriam-webster.com). Teori umumnya hanya diterima secara sementara, dan bukan merupakan pernyataan akhir. Perlu diketahui bahwa teori berbeda dengan ideologi. Sebab teori adalah kerangka pemikiran yang menjelaskan fenomena sosial tertentu, sedangkan ideologi merupakan pandangan hidup, contoh: Komunisme Karl Marx dan sebagainya. Semakin tinggi tingkatan suatu teori, maka semakin berkualitas pula teori tersebut.
Teori struktural fungsional adalah teori dalam ilmu sosiologi dan antropologi, yang membahas tentang masyarakat sebagai sebuah struktur, dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. Terutama pada elemen-elemen seperti adat, norma, tradisi dan institusi. Herbert Spencer menganalogikan struktural fungsional seperti organ tubuh manusia, yang bekerjasama demi berfungsinya seluruh metabolisme tubuh secara wajar (Urry, 2000: 23).
Tokoh-tokoh yang pertama kali mencetuskan teori ini adalah August Comte, Emile Durkheim dan Herbert Spencer. Pemikiran struktural fungsional sangat dipengaruhi oleh pemikiran biologis, bahwa kehidupan masyarakat bak organisme biologis yang terdiri dari organ-organ yang saling bergantungan (id.m.wikipedia.org). Adapun 3 postulat dasar dari teori ini adalah: 1) Adanya kesatuan fungsi ditengah masyarakat; 2) Fungsionalisme bersifat universal (umum); dan 3) Indispensability, dimana teori struktural fungsional tidak dapat dihindari dalam kehidupan manusia. Analogi biologi meniscayakan terjadinya harmoni, apabila setiap fungsi yang ada didalam masyarakat berjalan secara teratur. Harmoni nantinya akan menjadi persatuan (integrasi) atas setiap pola kelakuan masyarakat suatu negara (pattern for behaviour).  

Referensi:
Creswell, John W. (1993). Research Design: Qualitative & Quantitative Approach. London: Sage.
Sidharta, B. Arief. (2008). Apakah Filsafat dan Filsafat Ilmu itu?. Bandung: Pustaka Sutra.
Urry, John. (2000). Metaphors: Sociology Beyond Societies Mobilities for Twenty-First Century. Rontledge.
Sumber lain:
QS. al-Baqarah [2]: 31-32.
id.m.wikipedia.org, diakses paada 26/11/2017, pukul 14:46 wib.
Id.m.wikipedia.org, diakses pada 26/11/2017, pukul 15:08 wib.
Merriam-webster.com, diakses pada 26/11/2017, pukul 14:27 wib.

Komentar

Postingan Populer