TANYA-JAWAB KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

cdn.idntimes.com
Questions:
1.      Explain briefly four Hofstede’s value orientation with appropriate examples!
(Jelaskan secara singkat, empat orientasi nilai Hofstede dengan contoh yang tepat!)
Answer:
Empat orientai nilai Hofstede adalah individualisme/kolektivisme, menghindari ketidakpastian, pengaruh kekuasaan, maskulin/feminin. Berikut penjelasan dan contohnya:
a.       Individualisme/Kolektivisme
Kecenderungan nilai individualistis dan kolektivitas dimanifestasikan sehari-hari dalam interaksi keluarga, sekolah dan tempat kerja (Ting-Toomey dan Chung). Budaya kolektivitas menekankan komunitas, kolaborasi, minat, harmoni, tradisi, fasilitas umum, mempertahankan harga diri. Budaya individualistis menekankan hak dan kewajiban pribadi, privasi, menyatakan pendapat pribadi, kebebasan, inovasi, dan ekspresi diri (Andersen, dkk).
Contoh: Budaya Amerika Serikat, Australia, Inggris, Belanda dan Selandia Baru menganut individualisme (Hofstede). Sementara, dalam masyarakat Pakistan, Mesir, Kolombia, Venezuela, Taiwan, Cina, Korea dan banyak negara di Afrika dan Asia menganut kolektivisme. Selain itu, bangsa Hispanik (Meksiko, Kuba, Elsavador, Guatemala, dan Puerto Rico juga menganut kolektivisme.
b.      Menghindari ketidakpastian
Inti dari menghindari ketidakpastian menjelaskan, hal yang membuat masyarakat dalam suatu budaya merasa gugup terhadap situasi yang mereka lihat tidak terstruktur, tidak jelas atau tidak dapat diprediksi (Hofstede).
Contoh: Budaya yang menghindari ketidakpastian dalam konteks tinggi, cenderung menyediakan kestabilan bagi anggotanya melalui protokol sosial yang formal, perilaku serta ide menyimpang tidak dapat ditoleransi, dan menekankan konsensus. Negara yang cenderung menghindari ketidakpastian dalam konteks tinggi adalah Portugis, Yunani, Peru, Belgia dan Jepang. Sementara, budaya yang menghindari ketidakpastian dalam konteks rendah seperti Swedia, Denmark, Irlandia, Norwegia, Amerika Serikat, Finlandia dan Belanda dianggap lebih mudah menerima ketidakpastian yang ada dalam hidup, cenderung untuk bertoleransi terhadap yang tidak biasa, dan tidak merasa terancam dengan pandangan orang yang berbeda.
c.       Pengaruh kekuasaan
Kekuasaan merupakan karakter suatu budaya yang mengartikan, bahwa orang yang kurang berkuasa dalam masyarakat menerima ketidaksamaan kekuasaan, dan menganggapnya sebagai hal yang normal (Hofstede). Di beberapa budaya yang memiliki kekuasaan dan yang dipengaruhi kekuasaan tersebut secara signifikan terpisah (konteks tinggi). Sedangkan pada budaya lain, pemegang kekuasaan dan mereka yang dipengaruhi secara signifikan semakin mendekat (konteks rendah).
Contoh: Masyarakat dengan pengaruh kekuasaan tinggi seperti India, Afrika, Brazil, Singapura, Yunani, Venezuela, Meksiko dan Filipina. Sementara masyarakat dengan pengaruh kekuasaan yang rendah seperti Austria, Norwegia, Amerika Serikat, dan Selandia Baru.  
d.      Maskulin/Feminin
Maskulin merujuk pada nilai dominan dalam suatu masyarakat berorientasi pada laki-laki. Budaya maskulin menggunakan keberadaan biologis dari dua jenis kelamin, untuk menjelaskan peranan sosial yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Mereka mengharapkan laki-laki menjadi sosok yang tegas, ambisius, dan kompetitif, serta berjuang untuk kesuksesan materi dan menghormati apa yang besar, kuat dan cepat (Hofstede). Sementara, budaya yang menghargai nilai feminin sebagai sifat yang menekankan perilaku yang mengemong. Feminin juga mendukung kesetaraan gender, dan menganggap bahwa manusia dan lingkungan itu penting.
Contoh: Irlandia, Filipina, Yunani, Venezuela, Austria, Jepang, Italia dan Meksiko termasuk kedalam budaya maskulin. Sementara, negara-negara seperti Swedia, Norwegia, Finlandia, Denmark dan Belanda cenderung memiliki pandangan feminin.
2.      Explain briefly three ways in which cultural space is related to identity and power. Describe their significance to intercultural communication. Providing an appropriate example for each!
(Jelaskan secara singkat, tiga cara dimana ruang budaya terkait dengan identitas dan kekuatan. Jelaskan signifikansi mereka terhadap komunikasi antarbudaya. Berikan contoh untuk masing-masingnya!)
Answer:
a.       Ruang gerak pribadi
Antropolog Edward T. Hall mengelompokkan ruang gerak pribadi dengan empat kategori, yaitu: 1) Intim (18 inchi), biasanya dilakukan dalam hubungan yang sangat dekat. Kita dapat menjangkau dan menyentuh orang yang berada dalam jarak ini; 2) Personal-Kasual (18 inchi – 4 kaki), ada sedikit kesempatan untuk melakukan kontak fisik, dan kita dapat berbicara dengan suara normal; 3) Sosial (4 – 12 kaki), merupakan jarak dimana kebanyakan anggota budaya dominan melakukan bisnis; dan 4) Publik, ruang gerak ini dapat dilihat ketika melakukan presentasi didepan umum, jaraknya bervariasi, dekat maupun jauh.
Penggunaan jarak dan ruang gerak berkaitan dengan identitas dan kekuatan, atau sistem nilai suatu budaya. Apakah ia termasuk kedalam individualistik ataupun kolektivistik.
Contoh: Dalam budaya dominan di Amerika Serikat, hal-hal yang menyangkut privasi sangat dihargai. Orang Swiss bahkan akan mundur, ketika teman bicaranya bergerak terlalu dekat. Di Meksiko, Arab dan Mesir, jarak fisik diantara orang-orang yang terlibat dalam suatu percakapan lebih dekat dari biasanya.
b.      Tempat duduk
Pengaturan tempat duduk juga merupakan bentuk komunikasi non verbal. Setiap negara memiliki gaya pengaturan tempat duduk, yang mempunyai arti yang berbeda-beda, bahkan mencerminkan nilai budaya yang kuat.
Contoh: Di Cina, posisi tempat duduk orang yang dihormati menghadap ke timur. Di Korea, letak tempat duduk menggambarkan perbedaan status; tempat duduk disebelah kanan dianggap sebagai tempat kehormatan.
Maka, pengaturan tempat duduk berkaitan dengan identitas dan kekuatan, atau untuk mencerminkan nilai suatu budaya.
c.       Pengaturan perabotan
Cara orang dan budaya mengatur mebel (kursi, meja dan lain-lain) juga jelas menyampaikan suatu hal. Contoh: Di Cina, feng shui merupakan seni memanipulasi lingkungan fisik, untuk menciptakan keharmonisan dengan lingkungan alam dan untuk mencapai kebahagiaan, kemakmuran dan kesehatan. Sementara di Amerika Serikat, mebel di ruangan tengah mengarah pada tv. Sehingga, orang-orang dapat berkonsentrasi pada acara tv, dan bukan pada orang lain di ruangan tersebut. Mereka percaya pengaturan tersebut melumpuhkan suatu percakapan. Adapun di Jerman dimana privasi ditekankan, tempat duduk tersebar di seluruh ruangan kantor. Sementara di Jepang, posisi tempat duduk di kantor sesuai dengan senioritas, dan meja-meja diletakkan saling berdampingan.
Maka, pengaturan perabotan berkaitan dengan identitas dan kekuatan, atau untuk mencerminkan nilai suatu budaya. Apakah individualistik ataukah kolektivistik masyarakatnya. Sementara, signifikansi mereka terhadap komunikasi antarbudaya adalah bagian dari pengalaman komunikasi, sekaligus mempengaruhi komunikasi antarbudaya.
3.      What are some of the global challenges that we face today? How can the study of intercultural and international communication help us address global challenges? Explain and give sample!
(Apa saja tantangan global yang kita hadapi saat ini? Bagaimana studi antarbudaya membantu kita mengatasi tantangan global? Jelaskan dan beri contoh!)
Answer:  
a.       Ambiguitas
Ambiguitas erat kaitannya dengan komunikasi nonverbal. Misalnya, Anda mungkin melakukan gerakan secara acak (seperti mengusir lalat dari lengan Anda), dan seseorang mungkin melihat tindakan tersebut dan mengartikannya, bahwa Anda sedang melambaikan tangan padanya (Samovar, dkk, 2010: 295). Oleh karena itu, salah satu tantangan komunikasi antarbudaya adalah kita tidak pernah yakin, apakah seseorang mengerti pesan nonverbal yang orang lain sampaikan. Sebagian ambiguitas ini terjadi, karena komunikasi nonverbal ini berdasarkan konteks negara masing-masing.
b.      Intervensi
Intervensi dalam konteks komunikasi antarbudaya terjadi, dimana budaya mayor mencampuri urusan budaya minor dengan kacamata mereka. Campur tangan ini terkadang bisa sangat berlebihan dan menimbulkan konflik, karena menimbulkan ketidaksenangan di pihak budaya minor atas pengekangan yang ada. Contoh tindakan intervensi budaya: 1) Seorang majikan melarang/membatasi pekerjanya untuk beribadah sesuai dengan agama yang dianutnya; 2) Israel memblokade penduduk Palestina untuk beribadah di Masjidil Aqsha, kiblat pertama muslim dunia.
c.       Non Egaliter
Tentu, tidak memiliki konsep egaliter dalam diri, dapat menghambat individu untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya. Tidak egaliter dapat juga disebut hubungan status yang hierarkis. Artinya, budaya ini melihat perbedaan status turut mengatur aktivitas interpersonal dan antarbudaya mereka. Biasanya hal ini ditentukan oleh jabatan, usia, tingkat pendidikan dan sebagainya. Negara-negara yang menganut budaya ini adalah Jepang, Cina, Amerika Latin, dan Spanyol, termasuk Indonesia. Contoh: budaya perpoloncoan yang masih belum tuntas di Indonesia menunjukkan, bahwa senior masih mengharapkan rasa hormat dari anggotanya yang lebih rendah
d.      Prasangka
“Prasangka merupakan generalisasi kaku dan menyakitkan mengenai sekelompok orang. Prasangka menyakitkan dalam arti bahwa orang memiliki sikap yang tidak fleksibel, yang didasarkan atas sedikit atau tidak ada bukti sama sekali. Orang-orang dari kelas sosial, jenis kelamin, orientasi seks, usia, partai politik, ras atau etnis tertentu dapat menjadi target dari prasangka.” (Macionis dalam Samovar, dkk, 2010: 207). Contoh: Pada masa Pilpres 2014 sangat kental prasangka terhadap Joko Widodo, yang dicap sebagai antek-antek PKI. Tanpa kejelasan bukti, melainkan hanya sebagai alat propaganda oleh orang-orang yang tidak menyenanginya. Atau FPI yang kerap disangkakan sebagai Ormas Islam radikal di Indonesia. Padahal, FPI adalah satu-satunya Ormas Islam yang tegas menentang penyimpang dan penghina ‘aqidah agamanya.
e.       Stereotip
Dunia dimana kita tinggal ini terlalu luas, terlalu kompleks, dan terlalu dinamis untuk Anda ketahui secara detail. Jadi, Anda ingin mengelompokkan dan mengkotak-kotakkannya. Stereotip dapat positif ataupun negatif. Stereotip yang mencap sekelompok orang sebagai orang malas, kasar, jahat atau bodoh jelas-jelas merupakan stereotip negatif. Tentu saja, ada stereotip positif, seperti asumsi pelajar dari Jepang yang ulet (pekerja keras), berkelakuan sopan dan pintar. Bagaimanapun, karena stereotip mempersempit persepsi kita, maka stereotip dapat mencemarkan komunikasi antarbudaya. Hal ini karena stereotip cenderung untuk menyamaratakan ciri-ciri sekelompok orang.
Studi antarbudaya jelas mampu membantu kita mengatasi tantangan global ini, karena memberikan kita pemahaman tentang bagaimana menghadapi perbedaan yang ada. Sehingga, komunikasi dapat dibangun dan berjalan dengan baik antar orang-orang yang berbeda budaya.
4.      Explain some of the differences nonverbal communication, that can be related to the individualism and collectivism cultural value dimension. How can a through understanding of this value dimension help you to better understand, and categorize different types of nonverbal communication!
(Jelaskan beberapa perbedaan komunikasi nonverbal, yang bisa dikaitkan dengan budaya individualisme dan kolektivisme. Bagaimana melalui pemahaman ini, dapat membantu kita untuk lebih memahami dan mengkategorikan berbagai jenis komunikasi nonverbal?)
Answer:
Beberapa perbedaan komunikasi nonverbal, yang bisa dikaitkan dengan budaya individualisme dan kolektivisme adalah ruang dan jarak (proksemik) dan waktu. Salah satunya adalah waktu. Hall dan Hall mengembangkan klasifikasi waktu dalam 2 cara, yaitu: monochronic (M-Time) dan polychronic (P-Time). Negara-negara yang termasuk dalam budaya M-Time adalah Jerman, Austria, Swiss dan budaya dominan di Amerika Serikat. Dimana masyarakatnya menggunakan waktu dengan bijaksana. Dalam situasi bisnis, budaya M-Time menjadwalkan janji ketemu sebelumnya, tidak datang terlambat, dan “cenderung mengikuti rencana awal”. Budaya ini biasanya terdapat pada masyarakat yang individualistik.
Sementara, negara-negara yang termasuk dalam budaya P-Time adalah Arab, Afrika, India, Amerika Latin, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Dimana masyarakatnya lebih santai dalam penggunaan waktu. Hal ini terjadi karena masyarakat negara-negara tersebut, berusaha mempertahankan hubungan yang harmonis. Sehingga, waktu yang digunakan lebih fleksibel supaya hubungan dengan orang lain tetap baik. Budaya ini biasanya terdapat masyarakat yang kolektivistik. Melalui pemahaman ini, jelas dapat membantu kita untuk lebih memahami dan mengkategorikan berbagai jenis komunikasi nonverbal. Baik yang terdapat pada masyarakat individualistik ataupun kolektivistik, hanya dengan memerhatikan komunikasi nonverbal mereka.
5.      What are the four different kinds of gestures typically used for nonverbal communication? Which do you think has the greatest potential to cause intercultural misunderstanding and conflict? Give an example to support your answer. Then, give one example of how each of the other three kinds of gestures, might lead to an intercultural misunderstanding!
(Apa saja 4 jenis bahasa tubuh yang berbeda, yang biasanya digunakan untuk komunikasi nonverbal? Bahasa tubuh yang mana menurut Anda, yang paling berpotensi menyebabkan kesalahpahaman antarbudaya dan menyebabkan konflik? Mengapa? Berikan contoh untuk mendukung jawaban Anda. Lalu berikan satu contoh untuk tiga jenis bahasa tubuh lainnya, yang dapat menyebabkan kesalahpahaman antarbudaya!)
Answer:
a.       Ekspresi Wajah
Contoh: Bagi orang Jepang dan Cina, mengendalikan ungkapan perasaan yang kuat (rasa marah, tersinggung, sedih, dan cinta atau bahagia) dianggap sebagai tanda kedewasaan dan kebijaksanaan (Sue dan Sue). Min-Sun Kim menyatakan, bahwa masyarakat Korea juga menahan emosi dan ekspresi wajahnya tidak terang-terangan. Tentu, jika hal ini tidak dipahami dapat menyebabkan kesalahpahaman antarbudaya, terutama bagi para pendatang yang baru pertama kali melancong ke negara tersebut.
b.      Kontak mata
Contoh: Di Amerika Utara, tidak melakukan kontak mata dalam berkomunikasi bakal menimbulkan kecurigaan. Tentu, jika hal ini tidak dipahami dapat menyebabkan kesalahpahaman antarbudaya.
c.       Sentuhan
d.      Parabahasa
Contoh: Orang Arab berbicara dengan suara keras bukan bermaksud untuk membentak, melainkan maknanya ialah kekuatan dan ketulusan orang Arab. Tentu, jika hal ini tidak dipahami dapat menyebabkan kesalahpahaman antarbudaya.
Menurut saya, bahasa tubuh yang paling berpotensi menyebabkan kesalahpahaman antarbudaya dan menyebabkan konflik adalah sentuhan. Karena ada lima kategori dasar menurut Samovar, dkk (2010: 217) yang menjadi perilaku menyentuh: 1) Sentuhan profesional, dilakukan oleh orang-orang seperti dokter, perawat dan penata rambut; 2) Sentuhan kesopanan sosial, biasanya diasosiasikan dengan cara menyapa dan menyatakan apresiasi; 3) Sentuhan persahabatan, menunjukkan perhatian diantara anggota keluarga dan teman dekat; 4) Sentuhan keintiman dan kasih sayang, ditunjukkan kepada tipe sentuhan (belaian, pelukan, rangkulan, ciuman dan sebagainya) yang biasanya terjadi dalam hubungan romantis; 5) Sentuhan seksual, merupakan sentuhan yang paling intim, dilakukan untuk membangkitkan gairah seks. Salah melakukan sentuhan tentu akan menyinggung perasaan orang lain, dan tidak jarang menimbulkan konflik antarbudaya. Contoh: Sentuhan keintiman hanya bisa dilakukan dengan kekasih sendiri, dan tidak dengan orang lain. Apalagi dengan orang-orang dari budaya muslim, yang mengharamkan sentuhan tersebut kecuali dengan mahramnya.
6.      Discuss the relationship between language and political power within nations. How are national languages selected? Are some languages intrinsically superior to others?
(Jelaskan hubungan antara bahasa dan kekuatan positif didalam negara. Bagaimana bahasa nasional terpilih? Apakah beberapa bahasa pada hakikatnya lebih unggul dari bahasa lain?)
Answer:
Hubungan antara bahasa dan kekuatan positif didalam negara adalah menyatukan sub-sub kultur yang ada di dalamnya. Seperti bahasa Inggris yang menyatukan dunia, bahasa Arab yang menyatukan Islam, bahasa Mandarin sebagai bahasa perdagangan internasional, dan bahasa Indonesia yang menyatukan nusantara kita. Bahasa juga dapat digunakan untuk membentuk identitas nasional, ketika ada kebutuhan mendesak untuk menyatukan kelompok yang berbeda dari suku-suku di Indonesia, yang berbicara dalam bahasa yang berbeda.  
Bahasa nasional terpilih, karena kekuatannya untuk merangkul kepentingan bersama, sehingga laik untuk dipakai sebagai bahasa nasional. Asal-usul bahasa Indonesia sendiri, berasal dari bahasa Melayu, diketahui sebagai akar dari lingua franca Indonesia. Sutan Takdir Alisjahbana, dalam bukunya Sedjarah Bahasa Indonesia mengutarakan, bahasa Melayu memiliki kekuatan untuk merangkul kepentingan bersama, sehingga dipakai di nusantara. Pada hakikatnya, seluruh bahasa di dunia ini sama, sama-sama menyatukan anggota kelompoknya. Baik itu dalam skala kelompok yang kecil maupun yang besar seperti negara. Bahasa malah menjadi faktor pemecah belah, jika bahasa yang satu merasa lebih unggul daripada bahasa yang lain.
7.      How can media play a more positive role in intercultural communication? How can a more positive role affect global politics?
(Bagaimana media memainkan peran yang lebih positif dalam komunikasi antarbudaya?)
Answer:
Media punya peran positif dalam menjembatani perbedaan yang ada. Sebab dalam konteks komunikasi antarbudaya setidaknya media punya peran pengawasan, menjembatani, sosialisasi nilai dan menghibur. Dalam peranan pengawasan misalnya, media harus menjadi ujung tombak dalam memberitakan. Terutama terkait dengan pemberitaan seputar konflik, yang memang kerap terjadi di negara kita. Informasi tersebut sedikit banyak mempengaruhi cara pandang kita terhadap budaya. Bahwa budaya dan perbedaannya itu jika tidak dikelola dengan baik, dapat menyebabkan disintegrasi sosial (perpecahan). Sekaligus, menjadi tolok ukur pemerintah kita dalam mengantisipasi terjadinya gesekan-gesekan antarbudaya.
8.      What are some problems created by the exporting of popular culture from the U.S to the cultures of other nations? Provide examples!
(Apa saja masalah yang ditimbulkan dari masuknya budaya populer AS ke negara lain? Berikan contoh!)
Answer:
a.       Tergerusnya budaya lokal
Kurangnya memahami kearifan budaya sendiri, dan lebih mengidolakan budaya luar. Contoh: lebih menyukai dugem di diskotik hingga larut malam, ketimbang mempelajari tari kesenian daerah dan ikut melestarikannya.
b.      Perilaku konsumtif
Perilaku konsumtif adalah perilaku seseorang yang suka membelanjakan uangnya dalam jumlah besar. Dadang Hawari, salah seorang psikolog mengatakan, “Masyarakat kita saat ini lebih mengutamakan keinginannya daripada kebutuhannya”. Contoh: Membeli apa saja yang memanjakan matanya di mall, ketimbang membeli sesuatu yang benar-benar dibutuhkannya.
c.       Gaya hedonisme
Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan, bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. Tak jarang, para penganutnya merupakan orang-orang miskin yang tidak sadar diri. Contoh: Dalam ajaran Islam, ada kepercayaan bahwa hidup di dunia adalah sementara. Namun, gaya hidup yang hedonis telah membuat orang Islam terkena tipu daya. 
d.      Ingin serba instan
Ingin segala sesuatunya serba cepat, apa-apa maunya serba instan. Contoh: Semuanya ingin gampang, pengen segera lulus kuliah tapi malas belajar.

e.       Westernisasi
Suatu perbuatan seseorang yang mulai kehilangan jiwa nasionalismenya, yang meniru atau melakukan aktivitas yang bersifat kebarat-baratan. Salah satunya seperti pacaran yang telah menjurus pada seks bebas. Dimana seks bebas sendiri adalah hubungan seks secara bebas dengan banyak orang, dan merupakan tindakan tidak bermoral (karena belum ada pengakuan sah dari negara kolektivistik) yang dilakukan secara terang-terangan.
9.      What relationship exists between verbal communication styles and cultural values? Are some of the styles more likely to be favored by members of individualistic cultures? or by members of collectivistic cultures? Why?
(Apa hubungan antara gaya komunikasi verbal dengan nila-nilai budaya? Apakah beberapa gaya cenderung lebih disukai oleh anggota budaya individualistik? Atau oleh anggota budaya kolektivistik? Mengapa?
Answer:
Hubungan antara gaya komunikasi verbal dengan nilai-nilai budaya adalah menentukan, apakah budaya tersebut bersifat individualistik ataupun kolektivistik. Gaya komunikasi yang bersifat tersurat (langsung) lebik disukai anggota budaya individualisik, karena kondisi masyarakatnya yang majemuk. Seperti negara Yunani, Latin, Italia, Inggris, Perancis, Amerika Utara, Skadinavia, Jerman, Swis dan negara-negara barat lainnya. Sementara, gaya komunikasi yang bersifat tersirat (tidak langsung) lebih disukai oleh anggota budaya kolektivistik, karena biasanya berlaku pada negara yang masyarakatnya homogen. Seperti negara Jepang, Cina, Korea, Afrika-Amerika, Amerika (Pribumi), Arab dan negara-negara timur/Asia kebanyakan.
10.  How might the differing worldviews of diverse cultures present challenges for intercultural communication?
(Bagaimana pandangan dunia yang berbeda dari beragam budaya, menghadirkan tantangan komunikasi antarbudaya?
Answer:
Pandangan dunia yang berbeda jelas menghadirkan tantangan komunikasi antarbudaya, karena masing-masing individu melihat budaya dengan cara yang tidak sama. Walhasil, karena tidak mengenal keberagaman budaya tersebut dengan baik timbul lah stereotip hingga prasangka. Untuk itu, kita perlu menambah wawasan dan pengalaman dalam berkomunikasi antarbudaya. Sekaligus, mulai menghindari perasaan superioritas dalam kepemilikan suatu budaya.  
Meredam pandangan dunia yang salah kaprah, dapat menjadikan kita sebagai komunikator budaya yang berkompeten, dan terciptalah komunikasi antarbudaya yang efektif diantara orang-orang yang berbeda dengan kita. Berarti, kita harus benar-benar memperbaiki persepsi kita tentang dunia. Mari rubah persepsi dan redam prasangka, demi meminimalisir tantangan komunikasi antarbudaya kedepannya. Peace! :)

Sekian

Komentar

Postingan Populer