DAYAH: BEUT, SEUMEUBEUT (Pesantren: Ngaji, Mengajikan)

                                                                                     www.facebook.com 
Namaku Fazilis Syakur. Bagiku, Mudi Mesra Samalanga adalah dayah tua yang bertabur hikmah. Di pesantren inilah aku digembleng dan dibina untuk lebih mendalami ilmu agama. Sebab bagiku, ilmu agama lebih dari sekedar tuntutan melainkan telah menjadi kebutuhan di zaman seperti sekarang ini. Namun, aku tidak begitu berambisi untuk menjadi ulama hanya karena aku belajar di dayah (baca: pesantren). Musabab yang terpenting bagiku ialah aku bisa menjadi bagian dalam menyebarkan ajaran agama Islam, yang menjunjung tinggi nilai moral dan etika anak-anak bangsa.
Selain itu ada satu rahasia lain yang menyebabkan aku memilih untuk masuk dayah, yaitu karena rasa penasaranku akan bagaimana caranya Ustadz Ahmad Musa, guru mengajiku di SMK TI Ulumuddin dulu begitu lancar dalam membaca kitab kuning (kitab klasik), yang hanya berisikan aksara Arab tanpa baris seperti kasrah, fathah dan dhammah atau sukun.  Akhirnya, aku pun memberanikan diri untuk bertanya kepada ustadz ahli agama itu, “Ustadz, kiban cara beu jeut teuh kitab? Ho tajak?” (Guru, bagaimana caranya aku bisa pintar dalam mempelajari kitab, dan bukan malah tidur terus jika diajarkan? Kemana aku harus pergi, guru, agar aku bisa membaca kitab dengan lancar sebagaimana guru mengajarkan aku selama ini?”. Ustadz pun menjawab, “Neujak u Lhoknibong, atau Mudi Samalanga..” (Pergilah ke Lhoknibong (nama daerah) atau ke Mudi Samalanga). Sejak saat itu, aku pun mulai mencari tahu segala informasi tentang dua nama dayah yang disebutkan guruku itu, terutama yang terletak di Mudi Samalanga.    
                                                                                         www.facebook.com
Berdasarkan beberapa referensi dan dengar-dengar cerita baik dari kawan seangkatan maupun orang lain, tahulah aku bahwa, mulanya Lembaga Pendidikan Islam Ma’hadal ‘Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI) Mejid Raya Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh mulanya didirikan seiring dengan pembangunan masjid raya di kawasan itu. Dayah yang tersohor di belahan nusantara ini terletak di Gampong Mideun Jok, Kemukiman Masjid Raya, Kecamatan Samalanga atau jarak tempuh dari pusat kota Kabupaten Bireuen sekitar 47 kilometer. Pondasi dasar dan peletakan batu pertama MUDI Mesra ini dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda, serta pimpinan dayah pertama dikenal dengan sebutan Faqeh Abdul Ghani.
Aku masih ingat, kala itu tanggal 9 Juni 2016, aku diantar oleh Ayah dan sembilan orang temanku mengendarai Innova ke tempat pendaftaran di Kantor Sekretriat LPI Ma’hadal ‘Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI) Mesjid Raya Samalangan (Lantai I No. 9 Mabna Al-Aziziyah), Jln Mesjid Raya KM. 1,5 Desa Mideun Jok, Kec. Samalanga, Kab. Bireuen, Prov. Aceh.  Aku masih ingat persis, kala itu ibu dan adik-adikku berhalangan hadir, dan Bang Fajri (Syeh Mejeuhom), abang sepupunya temanku, yang menemaniku mengurusi segala sesuatunya. Seperti membayar biaya administrasi dan mengisi formulir pendaftaran, menyerahkan fotocopy ijazah terakhir, SKBD/SKCK, KK, KTP,  juga pas photo mengenakan peci dengan latar warna biru. Terima kasih Bang Fajri!
Akupun dinyatakan lulus, setelah melalui serangkaian materi testing seperti membaca Al-Qur’an (Tajwid, Makhrajil Huruf, Fashahah), Kitab Matan Ghayah Wat-Taqrib, serta Nahwu dan Saraf dengan kitab Matan al-‘Awamil dan Matan Ajurumiyah, serta Kitab Dhammun dan Matan Bina wal Asas.
                                           
                                                                      http://1.bp.blogspot.com
Aku masih ingat ada beberapa poin kedisiplinan yang harus aku jalani setelah resmi terdaftar sebagai santri Dayah Mudi Mesra, dan jelas aku merasa sangat keberatan mulanya untuk mematuhi semua itu. Namun, belakangan semuanya terasa enteng saja bagiku untuk kujalani sepenuhnya. Diantara persyaratannya yang masih kuingat ialah:
  1. Mengikuti pelajaran setiap jam belajar, mulai dari pagi, siang hingga malam harinya.
  2. Memakai busana muslim dan seragam putih yang bersih pada waktu belajar, bahkan yang perempuan diwajiban memakai cadar penutup muka.
  3. Mengikuti shalat berjama’ah setiap waktu.
  4. Mengikuti wirid Yasin menjelang shalat maghrib.
  5. Mengikuti Dalail Khairat dan Muhadzarah setiap malam Jum’at.
  6. Tidak boleh merokok baik di dalam maupun diluar komplek.
  7. Tidak boleh berhubungan dengan santriwan/santriwati yang bukan mahram.
  8. Tidak boleh keluar komplek tanpa izin.
  9. Tidak boleh memakai handphone dan alat eletronik lainnya.
  10. Santriwan yang terlambat kembali ke dayah, baik pada waktu libur ataupun izin pulang harus diantar oleh wali.
  11. Kuliah diizinkan setelah menguasai kitab I’annatut Thalibin.
Memang tak dapat aku pungkiri, terkadang aku merasa jenuh juga dengan rutinitas yang ada di dayah ini selama beberapa tahun. Tapi entah mengapa, disini aku mendapatkan apa yang tidak aku dapatkan diluar sana, yakni berupa-rupa ketenangan dan kedamaian. Apalagi, di sini aku belajar tidak sendiri, tapi selalu ada teman-teman sesama santri yang setia untuk menemani. Bahkan, sekarang alhamdulillah, berkat keseriusanku dalam belajar, kini aku kerap dipercaya sebagai imam shalat berjam’ah 5 waktu, termasuk di bulan ramadhan ini, aku kerap diminta sebagai imam shalat tarawih dan witir. Subhanallah!
Jujur, aku bangga dengan pesantren tempatku menimba ilmu ini. Di pesantren inilah tokoh-tokoh ulama kharismatik Aceh dilahirkan. Seperti: Tgk Kasem TB (Abu Kasem), Tgk Ibrahim Ishak (Abu Budi Lamno), Tgk Mukhtar bin Abdul Wahab (Abon Teupin Raya), Tgk Ibrahim Bardan (Abu Panton), Tgk Daud Lueng Angen (Abu Lhok Nibong), Tgk Muhammad Yusuf A Wahab (Tu Sop), Abu Ismail (Ayah Caleu), Tgk Nuruzzahri (Waled Nu), dan tentu masih banyak lagi tokoh-tokoh ulama Aceh yang disegani lainnya. Oleh karena itu, akupun semakin bertambah semangat untuk menimba ilmu di dayah. Sehingga, jika ada orang bertanya apa motto hidupku, maka dengan mantap aku akan menjawab: “Beut, Seumeubeut!” (Ngaji, Mengajikan!).
                                                                               
                                                                                               4.bp.blogspot.com
Kini perluasan bangunan terus dilakukan, lantaran kuantitas masuknya santri terus bertambah, baik dari Aceh itu sendiri maupun dari luar Aceh, seperti: Jambi, Lampung, dan Bekasi serta Jakarta, bahkan juga ada dari luar negeri. Para santri juga diberi kesempatan untuk kuliah umum di luar Dayah, umumnya santri kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Aziziyah.  Hal ini dimaksudkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat Aceh, yang disatu sisi tetap mempertahankan tradisi dayah dengan pembelajaran totalitas terhadap kitab kuning, dan di satu sisi kader-kader ulama dayah mudi mesra memiliki kapasitas dan legalitas untuk berdakwah lewat jalur birokrasi yang legal formal.
Namun, Mudi Mesra bukan tidak pernah dilanda bencana, baru-baru ini kami pernah terkena imbas dari tragedi gempa di Kabupaten Pidie Jaya. Aku masih ingat, gempa itu berkekuatan 6,5 SR dan terjadi pada subuh pagi, saat kami sedang berada di mesjid. Beruntung dari kami tidak ada yang menjadi korban, dan saat ini Mudi Mesra sedang giat membangun bangunan-bangunannya kembali yang sempat roboh. Alhamdulillah, kala itu bantuan terus berdatangan dari seluruh penjuru negeri.

*Penulis adalah Khairullah, S.I.Kom, alumnus Departemen Ilmu Komunikasi USU 2017, yang hobi menulis dan sempat menimba ilmu agama di Pesantren Ulumuddin, Uteunkot Cunda, Kota Lhokseumawe. Sekarang sedang sibuk memperbanyak viewers blognya dan juga tengah mencari pekerjaan (job seeker).

Komentar

Postingan Populer