SARUNG DARI MASA KE MASA

                                                                                i2.wp.com
Sarung bagi sebagian orang merupakan perlambang kekolotan. Padahal, sarung merupakan periodisasi peradaban bangsa kita. Coba sekali-kali kita lihat film sejarah. Disana diperlihatkan tokoh-tokoh Pangreh Praja yang memadukan jas ala Belanda dengan sarung yang notabene budaya kita. Tidakkah kita berbangga hati dengan perkara ini? Apalagi sekarang sarung dapat diproduksi secara massal dengan menggunakan benang sintetis. Tidak lagi seperti zaman baheula, coraknya pun beraneka ragam.

Mungkin sekarang, secara tidak langsung sarung tampak dimonopoli oleh muslim dan para santri. Padahal tidaklah demikian, sarung juga milik orang jaga malam. Sarung juga sering dijadikan penutup muka bagi para maling, yang tak mampu beli topeng perampok. Atau menurutku, ninja-ninja bertopeng dari dataran Cina itu terinspirasi dari sarung kita. Bisa jadi-bisa jadi.

Sesekali, jika memang saudara mengaku orang yang mencintai budaya, maka pakailah sarungmu! Setidaknya berbalas budi lah kepada sarungmu, yang telah menjadi pahlawan pasca sunatmu. Coba kalau kita masih pakai celana, bukankah begitu tersiksanya ujung kejantanan kita? Hehehe.

Di Mesjid, aku berpas-pasan dengan dua anak bau kencur yang sedang berdebat cara memakai sarung.

Pake sarung tu macem ni!” pamer satu anak. Padahal gaya bersarungnya lebih mirip ibuku waktu bunting. Dibagian tengah sarung terdapat gulungan kain yang besar dan tak rapi sama sekali. Aku terkekeh.

Sekarang giliran aku menguping si anak kedua, “Mana ada macam tu! Macam emak-emak lagi hamil aja! Hahaha!”

“Gaya bersarung tu macem ni lah kan paten. Cak ko tengok lu!”. Akupun turut melihatnya. Memang, tampilan luarnya terlihat rapi. Tapi ketika berjalan anak ini menggunakan langkah-langkah kecil. Katanya, “Gak bisa pake langkah besar, nanti rusak sarungnya!”.

“Hah! Takut rusak?! Kau macem anak kecil kenak kencing batu saja! Hahaha! Jalan kok seperti itu!” ejek si anak pertama tadi, membuat beberapa jama’ah yang lewat ikut tertawa.

Ah! Aku jadi teringat dengan sarung pertamaku di pesantren dulu. Oh! So sweet! I dont remember I was a sarong man for a long time ago.

Selain nyaman digunakan untuk shalat. Ada satu rahasia dari keutamaan bersarung dimana hanya pejantan saja yang  tahu. “Apa itu, Bang?” tanya juniorku di pesantren dulu.

Aku pun menjawabnya setelah berdeham dua kali, “Sesekali sayangilah kejantananmu. Berkat dia kelak kamu bisa punya anak, bisa pula menuntaskan hajatmu ke kamar kecil. Jangan biarkan dia terkurung lama di ruangan pengap (baca: celana). Pakailah sarungmu, biarkanlah ia rehat sejenak. Bisa kau lakukan itu menjelang tidur. Arahkan kipas angin kepada sarungmu. Maka, kau akan merasakan sensasi disapu angin sejuk yang masuk merambat perlahan dari ujung sarungmu. Aih! Kimochi!”.

Juniorku pun mendengarkan dengan khusyuk petuahku seperti mendengar petuah ulama. Aku pun tersenyum-senyum sendiri mengingat hal itu, sambil menuju ke tempat whudu’. Ah! Sebentar lagi adzan Isya bergema. Would you wear sarong again today? Hihihi.

Komentar

Postingan Populer