MENEPIS KELESUAN DI BULAN RAMADHAN

                                                                                  http://3.bp.blogspot.com
Sungguh amat disayangkan, jika bulan suci ini kita isi dengan kelesuhan. Kelesuan dalam berpuasa di siang hari, dan kelesuan dalam beribadah pada malam harinya. Padahal, bulan ramadhan telah banyak memberikan janji-janji surga, pahala yang berlipat ganda, pun yang memberikan janji adalah penguasa semesta alam sekaligus sang pencipta. Maka, mengapa kita menanggapi tamu agungnya dengan loyo-loyo saja? Seharusnya bulan ramadhan mampu membangkitkan semangat muslim tidak hanya dalam sektor ibadah, juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta menggeliatnya perekonomian pasar dan bisnis. Seharusnya!
Dari fenomena yang tidak mengenakkan diatas, nampaknya kita perlu kembali disuntik dengan motivasi-motivasi yang mampu mendorong kembali ghirah kita dalam ber’ubudiyah kepada Allah SWT. Setidaknya dalam pembahasan kali ini, bakal dipaparkan 5 kelebihan khusus yang dimiliki bulan ramadhan dan tidak dimiliki oleh 11 bulan yang lainnya.
Pertama, ramadhan adalah jalan menuju surga.
Mungkin bagi sebagian dari kita, jika membaca al-Qur’an dan melihat terjemahannya. Akan melihat ayat-ayat yang menyinggung perihal surga serta deskripsinya. Dalam beberapa ayat-Nya surga digambarkan dengan indah terutama pada bagian “...yang dibawahnya mengalir sungai-sungai”. Kata-kata ini secara langsung sering kita jumpai, bukan?
Bagi kita Bangsa Indonesia, mungkin sungai bukanlah suatu hal yang luar biasa. Tapi ketahuilah bahwa sungai merupakan hal yang amat-sangat luar biasa bagi Bangsa Arab kala itu sampai dengan sekarang. Oleh karena itu, Allah mengajak mereka berislam dengan pengandaian-pengandaian yang sering mereka impikan. Mungkin bagi kita memiliki tanah dengan kadar minyak yang kaya merupakan sebuah dambaan besar, sehingga logikanya jika Islam datang pertama kalinya di Indonesia, maka firman-Nya pun akan berubah. Begitulah manusia itu, tak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, dan selalu mendamba apa yang tak dimiliki.
Kedua, ramadhan adalah bulan yang tak tergantikan.
Jika seorang hamba Allah tidak memiliki uzur apapun untuk membatalkan puasanya, namun tetap membatalkannya. Maka, pertama ia telah berdosa. Karena puasa wajib hukumnya bagi mereka yang tidak berhalangan akan sesuatu. Walaupun ia berjanji akan menggantinya di bulan yang lain, maka sejatinya tidak adalah gantinya. Oleh karena itu, pergunakanlah waktu puasamu dengan baik, dan jangan pula engkau menyia-nyiakannya.
Dapat kita lihat sekarang ini sebuah fenomena yang jelas-jelas telah salah kaprah. Terutama bagi ibu-ibu yang sudah sibuk mencari baju lebaran, padahal lebarannya masih lumayan lama. Berkeliling di pasar, toko, mall atau pun tempat lainnya pasti akan menguras tenaga, dan tanpa disadari pasti akan menjadikan orang yang puasa lemah. Sehingga tak tahan menahan dahaga serta lapar hingga membatalkannya. Nau’dzubillah.
Ketiga, puasa sebagai tameng pelingdung.
Siapa yang menyangka bahwa puasa dapat mencegah perilaku keji dan mungkar? Setiap orang yang berpuasa pastilah kita dapati saling menasehati satu dengan yang lainnya. Contoh: Jika ada yang mengghibah atau menceritakan keburukan orang lain, pasti disadarkan oleh temannya dengan berucap, “Engkau sedang berpuasa!”.
Keempat, puasa adalah bulan dimana setan, iblis, jin jahat dibelenggu.
Cobalah dibandingkan jumlah jama’ahshalat lima waktu terutama subuh pada bulan ramadhan dengan bulan yang lainnya. Pastilah kita dapatkan perbedaan jumlah  yang sangat mencolok. Mengapa orang rajin bersembahyang ketika puasa? Jawabannya ialah karena pada masa itu, setan tidak mengganggu. Sehingga manusia bebas dari berbagai macam godaan seperti rasa malas beribadah dan sebagainya. Adapun jika kita sendiri yang tetap melakukan perbuatan keji dan mungkar, pastilah setan tak dapat disalahkan, karena setan telah jauh-jauh hari dibelenggu. Lantas, siapa kini yang menjadi setannya?
Hal keempat berkaitan dengan yang kelima, yaitu ditutup serapat-rapatnya pintu neraka, dan dibuka selebar-lebarnya pintu surga. Dan Allah memberikan selamat khusus kepada mereka yang berhasil melewati puasa dengan kesungguhan. Maka sudah sepantasnya, tidak adanya gangguan setan itu, semakin membuat kita rajin mengumpulkan pundi-pundi pahala, yang tentunya berguna bagi kita nantinya.
Seekor anak ayam bertanya kepada induknya, “Ibu, mengapa semua dari kita tetap dinamai ayam. Entah ayah ayam, ibu ayam, anak ayam. Kepada kita tak seperti manusia ada yang namanya parjo, suparman, sukirman, idah dan lain-lainnya?”. Lantas sang induk pun menjawab, ”Memang anakku, awalnya nama kita hanyalah ayam saja. Tapi jika kita sudah mati, kita akan memiliki berbagai macam nama. Ada ayam penyet, ayam gebuk, ayam kremes, ayam tangkap, ayam lepas, dan ayam-ayam lainnya. Sedangkan manusia jika mati hanyalah memiliki satu nama saja, yaitu mayit (mayat).  
Dari cerita diatas, semoga kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hidup kita hanyalah sementara, maka hiduplah dengan berarti dan terus mengabdi kepada-Nya. Sehingga walaupun kita mati, Allah akan memberikan ucapan selamat dengan menyelempangkan gelar taqwa kepada kita. Subhanallah!

Komentar

Postingan Populer